About

Vincent Paint Gallery

Vincent

 

Vincent Prijadi Purwono adalah satu dari sekian banyak anak-anak yang asyik dengan dunia seni lukis di Indonesia. Bermula dari keisengan menuangkan imajinasinya ke dalam coretan di sela buku-buku pelajaran sekolahnya, Vincent kini tekun dengan cat dan kanvas.

Berhadapan dengan karya Vincent sejatinya adalah sebuah proses mengikuti perjalanan imajinasi seorang anak yang tengah tumbuh menuju kematangan.

Catatan Harian Visual

 

Pembacaan cepat atas karya Vincent akan menuntun pada dunia imajinasi yang tidak monoton. Karya-karyanya serupa catatan harian visual, keseharian Vincent yang dekat dengan film kartun, ketertarikannya terhadap aneka bentuk kereta dan lajunya di atas rel, hingga kegelisahan dan kemarahannya tersebab tertekan oleh kewajiban belajar adalah narasi di balik kanvas Vincent.

 

Pada catatan-catatan visual tersebut, Vincent kerap memberikan kejutan. Ia tidak sekadar mereproduksi tokoh kartun kegemarannya. Ia juga tak hendak dengan banal menyajikan kegelisahannya oleh kewajiban belajar. Tak pula kaku mengejar perwujuddan kereta-kereta yang melulu presisi dengan wujud aslinya. Entah disadari atau tidak, Vincent memberikan narasi.

Family

 

Lukisan berjudul My Family (2018) adalah salah satu contohnya. Lukisan ini tidak menempatkan orangtua dan dua saudaranya sebagai figur utama, Karya ini justru didominasi oleh tokoh-tokoh kartun yang beragam. Dari Luigi dalam permainan Mario Bros hingga Freddy Fazzbear di film FNAF tampak berjejalan di antara figur-figur orang terdekat Vincent yang berdiri di depan pesawat tenggelam di sebuah akuarium.

Dengan gamblang Vincent tengah bercerita tentang dunia kesehariaanya yang selain dekat dengan keluarga, juga begitu akrab dengan tokoh-tokoh imajiner khas dunia anak. Pilihan warna yang didominasi cerah dapat ditafsirkan sebagai bentuk kebahagiaan Vincent dalam relasinya dengan figur-figur tersebut. Kedekatan yang bahagia itu tampaknya Vincent rasakan tanpa peduli situasi di sekitar keluarganya. Walau sebuah pesawat jatuh hingga patah ke dalam akuarium, ia tetap bahagia bersama keluarganya.

Kemarahan 

 

Narasi serupa sama sekali tak muncul dalam lukisan berjudul “KEMARAHANKU“. Pada lukisan ini tampak sosok berkacamata memegang bilah hijau di sudut kanvas sebelah kanan. Di sisi kiri yang berhadapan dengan sosok itu, tampak torso tanpa kepala menggenakan baju biru bertuliskan Life As Art. Bagian yang mestinya menjadi kepala pada torso itu Vincent ganti dengan garis-garis merah menyala.

Lukisan yang didominasi warna merah ini tampak sadis, sesadis yang dirasakan Vincent saat berhadapan dengan kewajiban belajar materi-materi pelajaran sekolahnya. Kepala yang pecah lalu hilang berada pada tubuh terbalut baju bertuliskan seni sebagai hidup sejatinya adalah medan semiotika bagi para apresiator karya ini. Lukisan ini sarat dengan penanda dan pertanda tentang kegelisahan dan kemarahan Vincent saat harus tunduk pada kewajibannya sebagai pelajar. Di saat yang sama, Vincent tampaknya sedang meneguhkan ketertarikannnya terhadap seni.

Kereta 

Dari deretan karya yang Vincent ciptakan, kereta tampak begitu mendominasi. Vincent tidak pernah menjelaskan dengan terang mengapa ia begitu suka melukis kereta di atas kanvas. Boleh jadi kereta-kereta di atas kanvas tersebut bermula dari ingatannya terhadap film Thomas and Friends yang menemaninya melewatkan masa kecil dulu. Bisa pula kereta-kereta itu muncul oleh sebab kekaguman seorang anak terhadap benda besar beroda yang mampu melaju cepat melahap jalur perjalanannya.

Terlepas dari mana imajinasi kereta itu bermula, senyatanya kereta-kereta di atas kanvas itu tampak Vincent wujudkan dengan keseriusan yang lebih dibandingkan lukisan-lukisan lainnya. Goresan kuas dan pilihan warna yang ekspresif menunjukkan Vincent memiliki kesungguhan lebih dalam saat mewujudkan kereta-kereta imajinatifnya.

 

Oleh: Hendromasto Prasetyo

Vincent Paint Gallery

Address:
G-Walk Junction TL 6/11
Citraland, Surabaya

Open:
Monday - Saturday 08:00-13:00
Please contact us to make appointment